Help others to help you

Kita diajar untuk selalu menolong orang lain
Dan ya adalah seharusnya kita menolong orang lain

Namun ada satu hal tentang menolong yang sering kita lupakan
Menolong orang lain untuk orang itu pun bisa menolong kita
Apakah terdengar egois atau memanfaatkan?

Jika dilakukan dengan motivasi untuk mencari keuntungan pribadi tanpa memikirkan orang lain maka itu egois namanya
Tapi jika dilakukan dalam ketulusan dan kerendahhatian karena kita sadar kita pun membutuhkan orang lain, itu justru adalah tindakan bijaksana.

Seseorang harus tahu kapan saatnya berdiri sendiri dan kapan saatnya meminta tolong
Seseorang harus belajar mengasihi dan dikasihi

Menolong orang lain adalah sesuatu
Memberi diri ditolong orang lain juga adalah sesuatu

Ada banyak orang dikenal sebagai penolong yang sangat baik hati tapi sesungguhnya mereka kesepian

Ada banyak orang yang merasa lelah memahami orang lain karena pada saat yang sama ia merasa tidak ada seorangpun yang memahami dirinya

Ada banyak orang yang merasa bersalah karena ia menasehati orang lain sedangkan ia sendiri sering gagal melakukan tanpa tahu harus kemana mengakuinya

Allah tidak pernah menciptakan kita untuk menjadi kuat dan bertumbuh dalam iman sendirian!

Jangan mudah berkata ‘mau mengatasi bersama Tuhan’ atau ‘tidak mau merepotkan orang lain’ atau ‘percuma karena orang lain ga akan ngerti’

Karena mungkin masalah sebenarnya adalah kita terlalu sombong untuk mengakui kekurangan, kebutuhan dan masalah kita kepada orang lain

Bagaimana kita bisa menemukan orang yang paham dan menolong kita jika kita tidak mencoba untuk membuka diri?

Memang tidak mudah menemukan seorang yang dapat dipercaya
Tidak ada orang yang bisa memahami kita dengan sempurna
Tidak selalu orang lain bisa memberikan jawaban dan solusi

Tapi kalau kita mau rendah hati dan membuka diri untuk belajar dari orang lain
Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang -orang yang tepat

Dan ketika firman “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” digenapi….

Kita akan menemukan indahnya kata “SALING…”

Unexpected moment

Pada hari libur kami sekeluarga berjalan-jalan ke tempat wisata Air Terjun Pelangi di Cimahi. Tempatnya indah, tidak terlalu besar tapi pas untuk main air dan menikmati pemandangan. Jalan menuju air terjun terbuat dari tangga batu sehingga tidak terlalu licin. Menurut Petugas jaga disana, “hanya” 500 meter saja dari pintu masuk menuju ke air terjun tapi karena posisi pintu masuk berada di atas air terjun, maka setiap pengunjung akan berjalan turun…turun.. turun…sampai ke lokasi air terjun dan naik…naik…naik saat perjalanan pulang.

Sambil berjalan masuk saya berpikir bakal lumayan banget pulangnya ini…dan satu saja yang saya khawatirkan bagaimana anak-anak saya akan menjalani pulangnya terutama anak saya yang kedua yang biasanya lebih mudah mengeluh jika berjalan agak jauh.

Setelah puas bermain dan makan, kami pun memutuskan pulang. Melihat anak tangga yang terus naik, Ayah anak-anak sudah bilang “Pelan-pelan aja naik tangganya, bentar-bentar berhenti tidak apa-apa.” Kekhawatiran saya semakin bertambah, gimana nih anakku? Ngebayangin dia mengeluh dan marah-marah itu sesuatu buat saya.

Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi! Bukannya anak-anak saya yang kesulitan mendaki anak tangga, justru saya yang kesulitan! Baru mendaki sedikit sudah ngos-ngosan dan pegal kaki. Sementara anak-anak saya dengan mudah berlari-lari menaiki anak tangga sambil memanggil-manggil saya dari atas “ayo Mami….”. Mereka sampai duduk-duduk di tangga atas menunggu saya yang kelelahan dan kehabisan nafas..benar-benar di sana saya merasa ternyata usia sudah bertambah 😀

Saya terkejut karena ternyata anak-anak saya lebih kuat dari yang saya kira! Saya juga terkejut karena menemukan ternyata saya tidak sekuat yang saya kira. Saya yang selama ini mengira cukup kuat dalam urusan hiking ternyata sudah tidak sekuat itu, entah karena umur, entah karena tidak terlatih berolahraga, entah karena tidak ada orang yang harus saya bantu, entah karena kePDan, yang pasti saya belum pernah hiking sampai ngos-ngosan seperti itu.

Di tengah nafas yang tersengal-sengal sekali lagi saya belajar sesuatu, ternyata penilaian saya salah total. Saya benar-benar tidak menduga akan terjadi peristiwa seperti itu, apa yang saya duga berbanding terbalik dengan kenyataannya. Ada rasa malu karena saya terlalu cepat menilai dan sok mengkhawatirkan anak saya padahal mungkin harusnya saya lebih mengkhawatirkan diri sendiri. Dan saya berpikir sepertinya peristiwa seperti ini tidak terjadi hanya dengan anak saya tapi juga dengan orang lain.

Saya bersyukur untuk pelajaran ini dan semakin bersemangat untuk menjalani hidup. Banyak hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi ke depan, belajar untuk tidak cepat membuat penilaian akan membuka cakrawala pandangan kita lebih luas.

Kau bekerja untuk siapa?

Seorang wanita berlelah lelah bagi keluarganya
Mencuci, menyeterika, menyapu, mengepel
Menyiapkan makanan, membersihkan..
Memastikan segala sesuatu berjalan dengan lancar
Memastikan suami dan anak anak kenyang dan sehat

Lalu datanglah suaminya…
“Istriku, duduk sini sebelahku. Aku mau cerita…”
Tapi ia terlalu sibuk, masih banyak pekerjaan yang belum beres
Rumah masih kotor, makanan belum siap
“Nanti ya, aku beberes dulu…” serunya
Dan hari pun menjadi malam
Badan sangat lelah dan moment cerita sudah lewat

Datang juga anak anaknya…
“Ibu, ini apa..?”
“Ibu, ayo main sama adek”
“Aduh kalian main sendiri aja yah, ibu lagi siapin makanan kesukaan kalian…”
Dan anak anaknya pun mencari informasi sendiri, bermain sendiri
mereka menikmati makanan yang dihidangkan
Tetapi ada sesuatu yang hilang dan tak terisi…

Kehadirannya…
Tawanya…
Pelukannya…

“Mama terlalu sibuk untuk dengerin aku cerita !” seru anaknya dengan kecewa
“Aku ingin kita bisa berbagi” suaminya berkata

Dan ia berpikir…
Aku mengasihi keluargaku, aku berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka
Mengapa mereka tidak mengerti?
Mengapa mereka masih terus menuntutku?
Apa yang salah?

Ayahnya yang bijak berkata..
Mungkin kau lupa anakku
Bukankah segala yang kau lakukan untuk mereka adalah agar mereka bahagia?
Bukankah kau ingin memiliki keintiman dengan mereka yang kau kasihi?
Tapi kebahagiaan tidak didapatkan dari pekerjaan semata,
Dan keintiman terjadi ketika menikmati waktu bersama

Jika apa yang kau lakukan bagi mereka
akhirnya justru menghalangi telingamu untuk mendengar
Menutup matamu untuk melihat
Menghentikan langkahmu untuk menyertai
Menahan tanganmu dari pelukan
Kau justru kehilangan yang paling berharga
Kau bekerja untuk siapa?

IMMUNE SYSTEM

WhatsApp Image 2019-01-09 at 10.56.22.jpegSaya sedang mendampingi kakak saya yang sedang menjalankan proses transplant ginjal. Salah satu proses dalam transplant adalah menurunkan daya tahan tubuh pasien sampai ke titik 0 pada hari operasi dan setelahnya agar tubuh pasien dapat menerima ginjal baru dan tidak menolaknya sebagai benda asing. Itu sebabnya pasien transplant harus dikarantina dan berada dalam kondisi steril agar tidak mudah terkena penyakit dari luar.

Dari proses tersebut, saya jadi semakin belajar dan memahami canggihnya Tuhan menciptakan system immune atau kekebalan tubuh manusia yang melindungi tubuh dari zat asing dan segala hal yang dianggap berbahaya bagi tubuh dan bisa menimbulkan infeksi. Sistem pertahanan ini demikian otomatis sehingga tidak perlu kita berpikir untuk memerintahkannya bekerja, tapi secara reflek begitu ada bakteri, virus, apapun asing yang dianggap tidak semestinya berada di dalam tubuh dan bisa mengakibatkan sel terinfeksi akan ditolak dan dibunuh olehnya.

Saya melihat gambaran alami tubuh ini seperti gambaran rohani. Setiap kita punya system kekebalan rohani yang terbangun dan bekerja otomatis ketika ada benda asing masuk. Pertanyaannya :

SISTEM KEKEBALAN TUBUH ROHANI SEPERTI APA YANG KITA BANGUN?

Apakah kita cukup bijaksana untuk menurunkan pertahanan kalau ternyata yang masuk itu sebenarnya baik seperti ginjal baru kakak saya?
Apakah kita cukup kuat untuk menolak dan membunuh kalau ternyata yang masuk itu virus dan bakteri?
Bagaimana membedakannya? Ada dua hal yang akan menolong kita membangun system kekebalan tubuh yang benar :

1. Ibrani 5:14  Tetapi makanan keras adalah untuk orang orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.
Dari ayat tersebut, kita belajar bahwa kita perlu mengisi dan menghidupi Firman Tuhan, bertumbuh sampai kita bisa menjadi orang yang dewasa rohani sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dan jahat, dan menggunakan Firman Tuhan sebagai pedang roh untuk melawan setiap bakteri dan virus jahat

2. Efesus 6 : 16  Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,..
Kita perlu bertumbuh dalam iman, sehingga iman kita menjadi perisai pertahanan yang melindungi kita dari segala yang jahat, sama seperti system kekebalan rohani.

Kekuatan dalam Firman dan Iman perlu berjalan bersama. Jangan sampai kita mengisi otak kita penuh dengan Firman tapi tidak cukup punya iman untuk menghidupinya. Itu akan membuat kita seperti prajurit yang menyerang membabibuta tanpa pertahanan dan kekebalan, karena hidup kita cuma sebatas teori. Begitu virus dan bakteri datang, kita tetap tidak mampu mempertahankan diri dan terinfeksi rohani sehingga akhirnya kita terluka dan mati dalam pengetahuan kita.

Sebaliknya jangan sampai juga kita punya iman tapi tanpa dasar firman yang benar. Itu akan membuat kita membangun system pertahanan tubuh sayang salah. Yang baik kita tolak, yang salah kita terima, akhirnya kita malah menjadi autoimun, yaitu penyakit dimana ada yang salah dengan system kekebalan tubuh seseorang sehingga ia malah menyerang sel sehat sehat dalam tubuhnya. Kita mungkin tidak bermaksud jahat atau menyakiti orang lain dan diri sendiri tapi karena pola pikir dan kepercayaan kita salah, kita bisa membuat keputusan-keputusan yang bodoh dan melukai orang.

Sistem kekebalan tubuh Tuhan ciptakan untuk melindungi kita. Apakah kita mau bekerja sama dengannya membangun system kekebalan tubuh yang kuat baik jasmani maupn rohani?

070119. WE

TERANG DAN PANAS

PhotoGrid_1543628513494
Manusia ga suka keadaan gelap
Manusia juga ga suka kedinginan
Apalagi jika gelap dan dingin disatukan.

Gelap dan dingin identik dengan kesendirian, hilang arah, hilang semangat.
Kita merasa seolah kegelapan mengambil sukacita dan tujuan hidup kita
Kita merasa kekecewaan yang terus menerus membuat hati kita dingin dan tak bisa lagi hangat mengasihi

Tapi gelap ga pernah bisa mengalahkan terang.
Bukan gelap yang datang mengambil terang kita
Gelap ada karena ketiadaan terang
Kita membiarkan terang dalam hati kita meredup sampai mati

Bukan dingin yang datang mengalahkan panas
Dingin ada karena ketiadaan panas
Ketika panas datang dingin menguap
Kita bertanggung jawab menjaga api kita tidak padam

Apakah hari ini kau merasakan kegelapan?
Nyalakan saja terangnya!
Adakah hari ini kau merasakan kedinginan?
Nyalakan saja apinya!

Karena Sumber Terang Dan Api abadi selalu ada,
tidak pernah ada satu kuasa mampu mematikanNya
Kegelapan tidak menggelapkan bagiNya
Matahari selalu bersinar pada waktunya
dan kala ia tidak tampak bukan berarti ia tidak ada.

Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,
untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut
untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera

we. 011218

Sebuah respon di lembah kelam

Aku diberi sebuah kehormatan untuk mengiringi beberapa orang dalam perjalanan iman mereka.
Dalam pandanganku mereka melewati lembah kelam, lembah yang benar benar kelam dimana tidak ada seorangpun yang mau melewati lembah itu

Rasa sakit, marah, rasa bersalah dan ketidakmengertian bercampur menjadi Satu

Namun demikian beberapa dari mereka punya respon luar biasa
Dan itu menyebabkan mereka tidak terpuruk terus menerus
Mereka terus maju dan menetapkan hati mereka untuk mengikut Tuhan apapun yang terjadi

Ada kemiripan respon dalam diri mereka yang menang dalam lembah kekelaman, yaitu pemahaman bahwa mereka tidak seharusnya menyalahkan orang lain dan situasi atas segala yang terjadi, bahwa mereka pun mungkin punya andil atas kejadian tersebut dan bahwa mereka bertanggung jawab kepada Tuhan untuk memilih respon yang benar di tengah situasi yang sangat menyakitkan tersebut. Mereka memilih untuk mengampuni, untuk taat, untuk meminta nasehat kepada yang lebih dewasa, untuk share kepada teman yang bisa dipercaya, untuk percaya bahwa Tuhan setia dan Ia pasti memberikan jalan keluar walaupun saat itu jalan yang mereka lihat sangat gelap.

Aku melihat mereka mendapatkan jawaban doa yang berbeda-beda. Ada yang terjawab sesuai keinginan mereka tapi ada juga yang tidak. Namun demikian hasil yang sama terjadi atas semuanya, mereka menjadi orang yang semakin kuat, semakin merdeka menjadi dirinya sendiri, semakin mengasihi Tuhan dan mengagumiNya, dan mereka menjadi berkat buat orang lain dengan cara yang unik.

Aku bersyukur untuk anugrah bisa melihat kekayaan pekerjaan Tuhan dalam hidup orang, sungguh terbukti tidak ada hasil yang buruk jika kita menaruh kepercayaan dan harapan kita padaNya. Respon yang benar dalam lembah kelam, akan membawa kita naik ke puncak gunung.

LOSE WITH DIGNITY

Kalah dengan terhormat? Kalah ya kalah aja, mau pakai embel-embel apa tetap kalah hasilnya. Lalu kenapa harus menghibur diri dengan membuatnya terdengar berbeda?

Baru baru ini seorang temanku yang telah menghadapi keputusan sidang perceraian
bilang “gua udah berjuang untuk pernikahan gua dan gua kalah walaupun Tuhan janji kita lebih dari pemenang dan Dia memimpin setiap pertempuran” (I know how she has fought and tried to stand upon the truth, she is amazing!)

Lalu ga lama setelah itu Ahok kalah dalam persidangan, divonis 2 tahun. Ada berbagai pendapat soal itu, ada yang bilang Ahok kalah di sidang, tapi Ahok menang di hati rakyat. Ada yang bilang memang sepantasnya Ahok dipenjara bahkan seharusnya lebih besar dari itu hukumannya, dll. Apapun pendapat orang, tidak mempengaruhi kenyataan bahwa memang Ahok kalah di persidangan
Dalam dunia nyata, kita mengalami dan melihat orang orang dengan pertempurannya masing masing. Ada yang bertempur melawan sakit penyakit, ada yang bertempur melawan kejamnya dunia bisnis dan politik. Ada yang bertempur dengan keluarga yang jauh dari ideal, ada yang bertempur dalam medan peperangan jasmani sesungguhnya di Negara negara yang sedang berperang.

Doa dipanjatkan, nubuat dinyatakan..tapi harus diakui tidak semua berjalan sesuai dengan yang didoakan dan dinubuatkan. Dan kita bertanya, mengapa? Apa yang salah? Apa yang harus diputuskan? Respon apa yang benar?

Somehow aku ga pernah memandang temanku atau Ahok sebagai orang yang kalah. Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa mereka memang kalah di persidangan..Ahok bilang “kalah dan menang seseorang baru bisa diputuskan saat ia di liang kubur”. Aku setuju dengan pernyataan itu. Mereka adalah orang-orang yang berjuang dan sama seperti seorang ibu selalu memberi motivasi bagi anaknya agar do their best dalam setiap perlombaan apapun hasilnya, aku rasa itu juga yang Tuhan mau dalam hidup kita. Ikut lomba bukanlah untuk semata dapat piala, tapi proses dalam persiapan lomba itu yang jauh lebih penting daripada hasilnya. Dampak dari proses tersebut atas hidup jauh lebih dalam dan luas daripada dampak sesaat setelah medali diberikan.

Kembali kepada kenyataan saat kita sudah berjuang dan ternyata kalah, bukankah itu menyakitkan? Iya..pastinya ada kekecewaan dan pertanyaan..Lalu? Apakah resiko kecewa tersebut menjadi alasan untuk kita berhenti percaya dan berharap? Bersiap siap untuk setiap kekalahan? Berhenti berjuang? Berhenti berdoa? Berhenti bernubuat dan mendengarkan nubuat?

Aku teringat kakakku yang hari ini masih sedang berjuang melawan sakit ginjalnya. 1,5 tahun yang lalu, dia berjuang melawan maut dan penyakit ginjal, berjuang agar tidak perlu sampai cuci darah, tapi ternyata akhirnya dia harus cuci darah. Saat dipasang alat cuci darah temporer, dia berdoa, bernubuat dan dinubuatkan, dia klaim semua Firman dan berdoa agar bisa dilepas alat cuci darah temporernya, tidak perlu diganti dengan alat yang permanen karena secara medis penyakit ginjal tidak ada obatnya, sekali vonis ginjal maka harus cuci darah seumur hidup. Dia tahan untuk tidak mengganti alat temporer ke permanen sampai batas waktu terakhir karena alat temporer ada umurnya, namun sampai batas waktu itu juga mujizat kesembuhan tidak terjadi dan ia harus menerima kenyataan untuk dipasang alat permanen. Apakah ia berhenti memperkatakan firman? TIDAK, ia tetap memilih untuk PERCAYA bahwa Yesus sudah menanggung semua sakit penyakit, kadang lelah iya…tapi ia terus menguatkan kepercayaannya.

Saat merenungkan hal ini, muncul kalimat “lose with dignity”. Buatku lebih baik berjuang dan percaya tapi ternyata hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan daripada berhenti percaya dan tidak berjuang karena bersiap menyambut kekalahan. Anyway kalah atau menang adalah hal yang sangat temporer dan relatif..dalam beberapa hal tampak jelas, tapi dalam beberapa hal tidak. Sebagian orang mengalami kekalahan yang akhirnya justru menjadi titik awal kebangkitannya dan dengan demikian kekalahannya ternyata tidak bisa disebut sebagai kekalahan. Sebagian orang lagi mengalami apa yang tampak sebagai kekalahan dan tidak bisa mengubahnya menjadi seperti semula seperti perceraian yang terjadi, sakit yang menyebabkan kelumpuhan atau kematian, kehamilan di luar nikah, namun begitu ada pilihan bagi orang orang yang mengalami ini untuk merangkul kekalahan dan perubahan yang diakibatkannya dan menjalaninya dengan kreativitas dan tekad untuk perubahan itu membawa kebaikan baginya.

Just because you are loose in several things, it doesn’t make you a looser! But What you do next will decide whether you are a looser or a winner! A winner is not someone who never loose. He might be suffered defeat but choose to lose with a dignity and then turn it to be something he can win!
</strong

29.05.17
-WE-

Hantu Malu

Rasa malu…
Ia menggerogoti dari dalam
Kita bisa menutupinya
Kita bisa tidak mengakuinya
Tapi ia ada di sana
Menghantui, membisikkan
Mengingatkan eksistensinya

Katanya kita tidak layak
Katanya kita punya banyak kekurangan
Katanya kita akan gagal lagi
Katanya tidak akan ada yang mau menerima kita

Maka ia mendesak
Agar kita semakin tutup mata
Agar kita berhenti berusaha
Dan menyembunyikan kebenaran
Dengan janji bahwa kita tidak akan menjadi lebih malu lagi

Dan itulah yang kita lakukan
Kita yang merasa lebih rendah
Mulai memaksa diri dan orang lain agar memenuhi standard tertentu
Kita yang jatuh dalam dosa
Mulai menarik diri atau berusaha terlihat lebih rohani
Kita yang menyadari kelemahan kita
Mulai membenarkan diri bahwa toh banyak orang lain yang lebih parah
Kita yang memiliki keadaan tidak ideal dalam keluarga, pekerjaan dan lingkungan
Mulai menutup mata dan mengambil sikap apatis

Bahkan dengan mengetahui kebenaran
Rasa malu kita menjadi lebih besar
Karena kita merasa gagal untuk menjadi pelaku Firman
Inilah senjata iblis yang berhasil membelenggu begitu banyak orang
sejak jaman Adam dan Hawa
Malu dan bersembunyi dari kehadiranNya

Kita tidak berubah bukan karena kita tidak tahu hal tersebut salah
Kita tidak mencari pertolongan bukan karena kita merasa kuat
Kita tidak kembali kepadaNya bukan karena tidak ingin bertobat
Tapi karena malu, teramat malu

Mengapa kita mempertahankan rasa malu seolah kita akan menjadi lebih baik hidup dengannya?
Apakah sungguh harga diri kita bisa terangkat dengan mempertimbangkan rasa malu?

Namun Dia yang pernah dipermalukan begitu rupa berkata :
“Aku sudah menebus rasa malumu..”
“Angkatlah kepalamu, pandanglah Aku”
“Hampiri Aku, melangkahlah maju”
“Jadilah merdeka dan kalahkan dia bersamaKu!”

We – 08 Agustus 2018

Ini semua Kulakukan untukmu

BEBERAPA RATUS TAHUN YANG LALU, LAHIR SEBUAH KISAH INDAH DI KOTA DUSSELDORF, JERMAN. KISAH INI MASIH BELUM BERAKHIR SAMPAI KINI, TERUS BERLANJUT DARI MASA KE MASA . . .

Suatu hari seorang rahib mendaki tangga sebuah bangunan tua di Dusseldorf, Jerman. Ia mengetuk pintunya.

Itu adalah studio lukis milik Stenburg, seorang pelukis kenamaan saat itu.

Ia berkata kepada Stenburg,”Mungkin anda sudah dengar bahwa kami sedang memugar gereja St Jerome? Kami minta bantuan anda untuk membuat lukisan yang akan dipasang di altar.” Stenburg terdiam sejenak untuk berpikir. Ia lalu berkata,”Baiklah bapa, saya akan membuatnya. Saya rasa lukisan tentang penyaliban adalah yang paling pantas untuk dipasang di altar. Melukiskan ini tidak mudah, tapi saya akan berusaha asalkan bapa memberi saya cukup waktu.” Keduanya sepakat, dan rahib itu menuruni tangga studio lukis itu dengan riang.

Sejak itu mulailah Stenburg berkelana di daerah Yahudi di Dusseldorf untuk mencari orang yang cocok dijadikan model lukisan. Tangannya yang trampil mulai menari-nari menggoreskan kuas di atas kanvas. Pelan-pelan mulai terlihatlah sebuah lukisan yang mengagumkan. Rahib yang dari waktu ke waktu datang untuk meninjau perkembangan ini selalu memuji-mujinya.

Bulan demi bulan sudah berlalu. Musim semi telah tiba. Gunung dan lembah mulai menghijau, bunga-bunga di padang mulai merekah. Tercium bau harum segar dari pohon-pohon yang berbuah. Jiwa seni Stenburg mulai bergolak melihat keindahan musim semi ini. Ia tinggalkan dulu pekerjaan lukisnya. Dengan mengempit sebuah buku sketsa, ia berkelana mengarungi lembah dan bukit.

Suatu hari, di tepi sebuah hutan, ia menjumpai seorang gadis gypsy yang sedang menganyam keranjang. Ia masih remaja. Gaun merahnya yang hampir luntur tidak bisa mengurangi kecantikannya. Hati Stenburg bergetar,”Gadis ini akan jadi model lukisan yang sempurna.”

Gadis kecil itu menyadari kehadiran Stenburg. Ia berhenti menganyam. Diletakkannya pekerjaannya. Dengan mata bersinar ia berdiri, melompat, dan menarikan tarian khas gypsy. Stenburg tersentak. Dengan cepat ia membuka buku sketsa dan mulai membuat sketsa gadis menari. Ia berteriak,”Berdirilah diam sebagaimana adamu sekarang. Aku mau melukismu. Jangan bergerak sampai kukatakan engkau boleh bergerak!” Gadis ini mengerti maksud Stenburg. Seketika itu juga ia diam, berdiri dalam suatu pose yang indah. Stenburg berkata pada dirinya,”Anak ini merupakan model yang wajar. Aku akan melukisnya sebagai gadis penari Spanyol.”

Selesai membuat sketsa, Stenburg mengadakan kesepakatan. Gadis itu harus datang beberapa kali ke studio lukis Stenburg sampai lukisan itu dapat diselesaikan. Stenburg akan memberi bayaran kepada gadis itu.

Pada hari yang sudah ditentukan, gadis itu datang ke studio Stenburg. Sambil berpose di depan Stenburg untuk dilukis, gadis itu menjelajahkan matanya melihat-lihat isi seluruh studio dari ujung ke ujung. Tiba-tiba matanya terhenti pada lukisan penyaliban yang saat itu sudah hampir selesai. Sementara mengamati dengan penasaran, ia bertanya dengan suara tersendat sambil menunjukkan jarinya,”Siapa orang itu?”. Stenburg menjawab dengan cuek,”Yesus”.

“Ia sedang diapakan?”

“Disalib”

“Siapa orang-orang di sekitarnya yang kelihatannya kejam-kejam?”

Stenburg menjadi jengkel,”Buat apa kamu tanya-tanya? Bagaimana aku bisa konsentrasi melukis dirimu kalau aku terus menerus harus menjawab pertanyaanmu?”

Anak itu tidak berani lagi bertanya lagi. Tetapi kesan lukisan itu terukir dalam di hatinya.

Esoknya gadis itu datang lebih pagi, sebelum Stenburg tiba di studionya. Ia berdiri terpaku mengamat lukisan penyaliban itu. Demikianlah yang dilakukannya setiap hari. Ia selalu mencari kesempatan menatap lukisan itu. Suatu hari Stenburg sedang enak hati. Ia kelihatan gembira dan ramah. Inilah kesempatan baik untuk bertanya. Selagi dilukis, gadis itu bertanya,”Pak kenapa Yesus disalib, apakah ia jahat?” Stenburg menjawab,”Tidak, Ia orang baik”. Gadis gypsy ini makin penasaran, ia tidak dapat menahan diri,”Kalau ia baik, kenapa dibunuh?”

Dengan kesal, Stenburg meletakkan kuasnya,”Sini, duduklah di sini. Aku akan menceritakan sekali saja, tapi engkau harus berjanji untuk tidak bertanya-tanya lagi, setuju?” Anak gadis itu mengangguk. Mulailah Stenburg menceritakan kisah yang tidak pernah usang, suatu cerita yang yang selalu diceritakan setiap hari di muka bumi dari masa ke masa sampai dunia berakhir yaitu “Kisah Salib di Golgota”. Gadis ini belum pernah mendengar kisah ini. Didengarkannya setiap penuturan Stenburg dengan menahan napas berulangkali. Matanya berkaca-kaca dengan air mata yang belum menetes.

Akhirnya selesailah lukisan gadis penari Spanyol. Inilah hari terakhir bagi gadis itu untuk datang ke studio. Dengan pilu, ia mengucapkan selamat tinggal kepada lukisan penyaliban yang dicintainya itu. Saat Stenburg menjejalkan segulung uang ke dalam tangannya, gadis itu memandang Stenburg dengan sayu. Dengan bibir gemetar ia berkata,”Selamat tinggal, pak. Bapak tentu mengasihi Yesus lebih dari apapun di dunia ini, untuk apa yang telah Ia lakukan bagi bapak”. Stenburg tersentak. Perkataan gadis itu bagaikan pisau yang merobek topeng kemunafikannya. Ia menjadi malu dan gelisah. Saat itulah ia sadar bahwa selama ini ia kehidupan kekristenannya hanyalah kepura-puraan belaka.

Hari demi hari berlalu. Waktu terus berjalan. Stenburg tidak bisa melupakan kata-kata gadis itu,”Bapak tentu mengasihi Yesus lebih dari apapun di dunia ini, untuk apa yang telah Ia lakukan bagi bapak”. Betapapun ia menyibukkan diri, ia tidak dapat melupakan peristiwa itu. Kata-kata itu terus terngiang dan bergema di telinganya. Stenburg menjadi lega setelah lukisan penyaliban itu selesai dan dibawa ke altar gereja St Jerome. Tetapi selang beberapa waktu, hatinya menjadi gelisah kembali. Ia kehilangan gairah dan kesenangan hidup. Ia merasa memerlukan sesuatu tetapi ia tidak tahu apakah itu.

Suatu hari Stenburg menghadiri kebaktian kebangunan rohani yang diadakan sebuah gereja kecil di pinggir Dusseldorf. Pikirnya, mungkin di sana ia bisa menemukan kedamaian hati. Dalam kebaktian ini Stenburg menyerahkan hati kepada Yesus. Ia dilahirkan kembali. Selama ini ia hanya Kristen agamawi saja, belum pernah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus. Seketika itu juga damai sejahtera surgawi yang belum pernah dialaminya memenuhi hatinya. Gelisah dan kecemasannya lenyap. Sesuatu masuk ke dalam hatinya. Apa itu? Kasih. Kini ia baru mengerti apa artinya mengasihi Yesus. ”Bapak tentu mengasihi Yesus lebih dari apapun di dunia ini, untuk apa yang telah Ia lakukan bagi bapak”

Kehidupan Stenburg mulai bersinar dan aktif kembali. Ia berpikir, kasih harus ada wujudnya. Tapi apa yang dapat dilakukannya? Ia tidak fasih bicara, ia tidak bisa kotbah. Ia berdoa dan minta agar Tuhan menunjukkan apa yang harus dilakukannya. Suatu hari terlintaslah gagasan di benaknya,”Aku tidak bisa menunjukkan kasihku kepada Yesus melalui pelayanan kotbah dan bersaksi melalui ucapan, tapi dengan pertolonganNya aku bisa bersaksi tentang kasihNya melalui lukisan.” Wajah Yesus yang disalib yang telah dilukisnya untuk gereja St Jerome adalah wajah yang penuh derita, tetapi wajah yang akan dilukisnya kini adalah wajah yang penuh kasih.

Inspirasi dan kasih bergelora di dalam Stenburg, membakar keahlian yang memang sudah dimilikinya menjadi seratus kali lebih hebat. Lukisan itu hanya menggambarkan kepala dan bahu Yesus, dengan mahkota duri di kepalaNya. Sangat indah, agung, dan hidup. Yang memukau setiap orang yang melihatnya adalah sinar mata Yesus. Penuh kasih dan belas kasihan. Seolah-olah mustahil ada tangan manusia bisa menghasilkan karya yang begitu hidup dan agung. Di bawah lukisan itu Stenburg menggantungkan tulisan,”INI SEMUA KULAKUKAN UNTUKMU. APA YANG KAU LAKUKAN UNTUKKU?” Stenburg menyumbangkan lukisan itu ke balai seni lukis milik pemerintah kota Dusseldorf.

Tidak terhitung berapa ribu orang yang mengunjungi balai seni lukis Dusseldorf yang berdiri memandang lukisan itu sambil meneteskan air mata. Stenburg sering melihat dari kejauhan bagaimana orang-orang yang memandang lukisannya itu sambil ia berdoa agar Tuhan menjamah mereka dengan kasihNya.

Suatu hari ketika Stenburg ada di situ, ia melihat seorang gadis masuk ke balai seni lukis itu. Gadis itu berdiri terpaku di depan lukisan penyaliban itu sambil menangis. Stenburg menghampiri gadis itu. Setelah ia menoleh, barulah Stenburg mengenalinya sebagai gadis gypsy yang pernah dilukisnya. Dengan berlinangan air mata dan bibir gemetar, gadis itu berkata kepada Stenburg,”Saya sering datang ke sini untuk melihat Dia. Oh, kalau saja Dia mencintai saya, sedangkan saya ini seorang gypsy.”

Dengan lembut dan rendah hati Stenburg meminta maaf,”O, maafkan saya! Maafkan saya kalau saya belum pernah memberitahu kepadamu”. Stenburg menceritakan bahwa Yesus mengorbankan diriNya untuk semua orang. Dengan mata terheran-heran, gadis gypsy itu sekali lagi mendengarkan “Kisah tentang Salib” yang jangkauannya tidak mengenal batas suku, bangsa, tempat, dan waktu. Di balai seni lukis Dusseldorf itulah, gadis gypsy ini menyerahkan hatinya kepada Sang Juru Selamat.

Tahun berganti tahun, semakin banyak jumlah orang-orang yang menemukan Yesus melalui lukisan Stenburg. Suatu hari ada seorang bangsawan muda memasuki balai seni lukis itu. Ia bergelar Imperial Count. Ia adalah Nikolaus Ludwig Zinzendorf. Ia berdiri di depan lukisan itu dan menangis terisak-isak. Lukisan penyaliban dan kata-kata yang terpasang di bawahnya menggetarkan lubuk hatinya. ”INI SEMUA KULAKUKAN UNTUKMU. APA YANG KAU LAKUKAN UNTUKKU?” Sejak kecil ia sudah beragama Kristen, tapi baru kali ini ia menyadari betapa besar Yesus mengasihinya. Ia menyerahkan seluruh hidup dan kekayaannya untuk membalas kasih Yesus. Ia mendirikan misi gereja Moravia yang amat legendaris.

Lukisan Stenburg ini sudah tidak ada lagi, ikut hangus terbakar saat balai seni lukis milik pemerintah kota Dusseldorf terbakar. Tapi kisahnya tidak berhenti di sini. Pengaruh dari lukisan itu hidup untuk selamanya. ”INI SEMUA KULAKUKAN UNTUKMU. APA YANG KAU LAKUKAN UNTUKKU?”

sumber: http://kebenaran1.blogspot.com/2007/01/ini-semua-kulakukan-untukmu.html

FIGHT

To love and admire someone who is good and skillfully is easy
We can learn many things from them
We want to stay close with them
But there are more people
who are not as good and skillfully as we expected
People who have many weaknesses
and make a poor choice that influence us
Can we still love and learn from them?
Do we have to stay with them?

It is our choice…
To love without compromise with their wrong and poor choice
To seek goodness within all the weaknesses
To learn even from their wrong attitude so we will not do the same
To stay without being apathetic, judge and become their victim
To face the disagreement with respect
To be creative in finding a way for every problems
To believe that God is the only One who knows and hold someone’s life
To admire the wonderful work of God in everybody

Whether we separate or stay,
we do it with faith, love and hope
Fight until the end of life
As Jesus did when He gave His life
Knowing that God is more than able to do miracle
Trust that His love can do more than our thoughts
As He never gave up on us We learn not to give up
For Christ is our example

(we, 25 Mei 2018)